Baca Artikel

Catatan kecil dari Kirab Persada Indonesia: Wajah Baru politik di Bali

Oleh : dudikmahendra | 13 November 2016 | Dibaca : 226 Pengunjung

Perhelatan politik identik dengan hura-hura dan huru hara. Hura-hura karena menghabiskan banyak biaya dan cendrung pamer kekuatan massa. menurunkan banyak massa membuat turunnya banyak biaya pula. menurunkan banyak massa dengan fanatisme pada partai sering menimbulkan gesekan. gesekan yang terjadi karena massa partai yang fanatik memasuki wilayah yang didominasi oleh massa partai lain yang juga fanatik. kejadian berikutnya adalah penghadangan dan huru hara!

Tetapi pada tanggal 12 hingga 13 November 2016, Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nadem Provinsi Bali menampilkan wajah baru politik di Bali, lewat gelaran acara Kirab Persada Indonesia.  Ratusan kendaraan roda empat dengan tempelan stiker "Sing Nasdem Sing Keren" dan wajah-wajah pengurus partai Nasdem berjalan beriringan memasuki seluruh kabupaten kota yang ada di Bali. Dilepas oleh beberapa pimpinan daerah bersama ketua DPW Partai Nasdem Bali dari Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar. rombongan besar ini menuju kabupaten Gianyar, dan menjadikan Pura Aer Jeruk sebagai persinggahan pertama untuk melakukan persembahyangan dan makan siang. Rombongan diterima dan dilepas oleh bupati dan wakil bupati Gianyar. Pura Kehen di Bangli sebagai tempat kedua, pura goa lawah di kabupaten klungkung berikutnya dan rombongan kirab beristirahat di lapangan perjuangan Karangasem untuk makan sore, sebelum menuuju kabupaten Buleleng. 

setelah bermalam di kota Singaraja, pagi hari, sarapan bersama pasangan calon bupati dan wakil bupati Buleleng untuk dilepas kembali melanjutkan kirab keliling Bali. pura Pulaki disinggahi pertama pada hari kedua ini. dilanjutkan mengelilingi sisi barat pulau Bali menuju Pura Rambut Siwi di Kabupaten Negara. meluncur kemudian ke Taman Makam Pahlawan Panca Katirta Margarana di kabupaten Tabanan, berlanjut memasuki kabupaten Badung, melintasi kembali Kota Denpasar sebelum menuju Pura Luhur Uluwatu di Kabupaten Badung yang menjadi titik akhir kirab Persada Indonesia.

Jadi perhelatan Partai Nasdem ini telah berhasil menunjukan perubahan wajah politik yang sangar menjadi ramah dan penuh keceriaan. tidak ada sama sekali penghadangan ketika memasuki suatu wilayah yang bisa diklaim sebagai basis massa partai tertentu. tidak pula ada arogansi massa ketika melewati kantor partai lainnya. Delapan Kabupaten dan satu kota telah dirajut oleh semangat baru dalam berpartai dan berpolitik di tanah Bali. berpolitik bisa dengan bergembira, tanpa perlu adu otot dan bikin huru hara.

Cerita suram, tentang penghadangan massa partai oleh massa partai lain sepertinya sudah menjadi catatan cerita masa lalu saja, yang tidak perlu ditorehkan kembali. masyarakat Bali kini semakin dewasa menyikapi perbedaan warna politik. dan Nasdem sebagai partai yang baru berusia  lima tahun,bisa menjadi rumah bersama untuk merajut cerita-cerita politik ke depan yang semakin santun, berpihak kepada rakyat dan tentunya tidak korup!

Semangat restorasi yang digelorakan oleh Nasdem sepertinya mulai mewujud. bangsa ini dulu telah bisa menerima perbedaan warna politik, perbedaan warna politik tidaklah sampai menimbulkan kriminalisasi. persaingan politik lewat ide dan kerja nyata sesuai ideologi yang dianut dan dilakukan melalui kegiatan budaya. rakyat hidup sederhana tetapi berpolitik dengan gempita pada massa sebelum 65. 

Setelah peristiwa 65, kehidupan politik di negeri ini berubah. semua serba dikondisikan. partai politik diciutkan agar mudah dikondisikan. bahkan dengan politisasi kekuasaan saat itu sangat gencar melakukan gerakan apolitis atau anti politik. slogan "Pembangunan yes, politik no" didengungkan! kampus steril politik. Mahasiswa tidak cerdas kalau berpolitik. Melalui kemunculan Golongan Karya, partai politik benar-benar dikerdilkan.

tentu masih lekat dalam ingatan, bagaimana Golongan Karya menjadi rumah bagi kelompok ABCD; A untuk angkatan bersenjata, B untuk kaum Birakrasi, C bagi kaum Cendikiawan dan Tokoh-tokoh daerah masuk kelompok D. kalau semua kelompok-kelompok yang bercitra positif yang ada dalam masyarakat harus masuk Golongan Karya maka bisa dikatakan bahwa, hanya kelompok-kelompok minoritas atau negatiflah yang mengisi partai-partai hasil fusi yang ada.

PDI adalah tempat bagi mereka yang tidak cendikia, bukan angkatan dan PNS pastinya dan mereka yang pekerjaannya tidak jelas. jadilah partai ini menjadi partai kerdil yang dipaksakan ada untuk menjaga marwah demokrasi. begitu pula dengan PPP partai dengan nuasa agama ini pun tidak lebih baik dari PDI, karena para santri yang pintar dan tokoh agama yang mapan sudah ditarik ke dalam Golongan Karya. keberadaanya juga sama, agar kelihatan demokrasi itu ada!

sekarang PDI sudah tidak ada lagi, Golongan Karya telah menjadi Partai Golkar dan PPP masih tetap bertahan. Ditambah dengan Gerindra, Hanura, PKB dan PKS semoga Nasdem benar benar bisa melaksanakan cita-cita mulianya merestorasi kehidupan bernegara dan berbangsa. dimulai dari kehidupan berpolitik. karena politik adalah jalan menuju kekuasaan dan dengan kekuasaanlah restorasi menyeluruh bisa dilaksanakan di negeri ini. 

#singnasdemsingkeren


Oleh : dudikmahendra | 13 November 2016 | Dibaca : 226 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



 AGENDA
Hubungi Kami
wayan_ddk@yahoo.com -
Jajak Pendapat
Bagaimana Pendapat Anda tentang Website DudikMahendra.com?
Twitter