Baca Berita

Cerita Pewarta Warga Bertemu Duta Besar

Oleh : dudikmahendra | 11 Desember 2015 | Dibaca : 539 Pengunjung

Tiba-tiba messengerku menampilkan pesan dari Luh De Suriyani. Selasa, 8 Desember 2015, mengajak memenuhi undangan dari konjen Amerika pada 11 Desember 2015. Katanya mereka mau bertemu dan berbincang dengan pewartanya BaleBengong. Aku langsung saja meng-iya-kan undangan dari Luh De, (sebenarnya takut juga kalau menolak…ntar Kamerad Anton mengarahkan rudal bali-sticknya ke Sesetan.) Teori konspirasi langsung berkelebat diimajiku. Maklumlah, data di otak ini berisi peranan Amerika dalam setiap pergantian rezim yang terjadi di negeriku. Saat ini ada kasus Freeport pada sidang MKD yang membuat aku tertawa pilu!!! Apalagi pertemuan di set up setelah pilkada serentak...wajar saja teori konspirasi menyeruak dalam pikiranku. Tanggal 11 Desember 2015, di kawasan Renon sesuai kesepakatan waktu dengan Luh De, pertemuan jam 12.30, aku sudah memarkir motorku jam 12. 26. Baru saja kakiku melangkah menuju pintu masuk warung makan (resto sih aslinya) tempat pertemuan ada dua orang menyapa namaku. Aku langsung ngeh…ini orang konjen itu. Wanita berkerudung mengulurkan tangannya dan langsung seperti membacakan profilku pada diriku sendiri, membuat aku tersenyum. Wah, Mbak sudah pegang file saya ya… (beh jeg seken sube ne, pasti ada udang main batu). : Sudah diberitahu tentang pertemuan ini oleh Bu Luh De? : Sudah, makanya saya datang kesini. (bego juga jawabnya) : Maksud saya ini pertemuan tertutup (dalam hatiku.. beh jeg care MKD gen misi tertutup). Nanti yang hadir adalah Bapak Duta Besar kami dan Vice Foreign ministry kami (busyet.. ngga nyangka aja kalau si mbak yang berkerudung ini orang Amerika) : Luh De hanya memberi tahu saya akan bertemu dengan orang konjen berdiskusi tentang pewarta warga yang jadi contributor di Bale Bengong. Wah, keren juga ketemu Duta Besar Amerika ya Mbak… : Bapak sudah deket… Tiba-tiba Luh De dan Kaung (sengaja disamarkan namanya karena ini cerita konspirasi) datang. Melihat Kaung datang bercelana selutut, si Mbak agak tidak berkenan. Tetapi Luh De dan Kaung sama sekali tidak terpengaruh, mereka tetap full confidence melangkahkan kaki menuju ruangan yang sudah dipersiapkan. Sesuai tema, ruangannya tertutup! Bertiga kami duduk menunggu, tak lama berselang yang mengundang pun memasuki ruangan. Mereka datang berenam. Pak Robert, Bu Noah dan tiga bule serta satu orang pribumi yang nantinya difungsikan sebagai penerjemah. Makanan belum datang, di meja hanya ada piring melinggeb dan gelas yang berisi air putih (undangan jam makan siang, artinya ada makan siang) Pak Robert langsung membuka pembicaraan. Dan Luh De menjawabnya dengan menjelaskan tentang Balebengong.net dan kiprah sloka institute. Pelayan datang menawarkan minum, perbincangan tidak terpengaruh, jalan terus….Kaung menyampaikan tentang masalah Bali itu ada di tata ruangnya. Orang Bali sudah kehilangan lahan yang kasat mata, mereka hanya menguasai ruang-ruang niskala. (pikiranku,mungkin karena wilayah niskala belum terjangkau investor luar, sehingga ruang itu masih aman dalam dekapan orang Bali) Bu Noah sempat menanyakan tentang gender, luh De bilang ada gerakan besar yang terjadi tentang gender isu ini. Sekarang MUDP sudah mengakomodir hak waris bagi perempuan karena sebelumnya perempuan Bali tidak mendapatkan hak waris di keluarganya. Aku tambahkan emansipasi di Bali untuk kaum perempuan sudah ada dari dulu, bahkan urusan bekerja kaum perempuanlah yang lebih berperan bahkan mereka bisa menduduki posisi sebagai pendeta, hanya saja mereka tidak memiliki akses dalam rapat banjar dan tidak atau belum bisa menjadi pemimpin di banjar. Terkait isu lingkungan, pendidikan dan sedikit politik tentu menarik untuk ditulis tetapi karena pertemuan bersifat tertutup tentu kurang elok kalau detailnya aku paparkan di sini. Biarlah diskusi itu menjadi penambah wawasanku saja. Yang bisa disampaikan dan menjadi bekal bersama bila kelak aku dan kalian, yang membaca tulisan ini menjadi pejabat public atau tokoh kaya nan raya, bisa meniru bagaimana mereka menghargai manusia. Meskipun kaung datang dengan celana pendek, Luh De kaosan dan mereka dengan standar protokoler lengkap dengan pengawal dan staffnya, mereka sangat menghargai kami. Pak Robert yang duta besar dan Bu Noah yang wakil menteri luar negeri dari Amerika mampu membangun atmosphere diskusi yang hangat dan tidak berjarak. Meskipun ada sedikit kendala bahasa, mereka terlihat serius mendengarkan kami berbicara dan menanggapi pertanyaan kami dengan sangat baik. Sebagai pejabat tinggi, mereka datang langsung berbicara dengan kami, warga kebanyakan tanpa perlakuan yang ketat. Tidak ada metal detector apalagi body grab (grepe-grepe). Mereka menghargai usaha-usaha kecil yang kami lakukan untuk mengajak masyarakat sipil berani menyampaikan pendapat dan kepentingannya. Dan kami pun menemani mereka makan siang tanpa dibuat canggung, piring yang berisi ikan, daging dan sayur ala Bali saling oper diantara kita. Padahal sebagai orang Bali yang kental dengan mistiknya harusnya mereka waspada kalau makanan yang tersentuh bisa langsung berisi magic…hihihi kalimat terakhir ini hanya penutup teori konspirasiku di atas, tidak ada konspirasi-konspirasian…ternyata inti dari pertemuan hari ini, Pak Robert dan Bu Noah punya teman makan siang orang Bali karena mereka sedang mencoba masakan Bali di Bali. That’s it!!!! Sesetan, 11/12/15


Oleh : dudikmahendra | 11 Desember 2015 | Dibaca : 539 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



 AGENDA
Hubungi Kami
wayan_ddk@yahoo.com -
Jajak Pendapat
Bagaimana Pendapat Anda tentang Website DudikMahendra.com?
Twitter