Baca Berita

Gunung Agung 10-10-2017

Oleh : dudikmahendra | 11 Oktober 2017 | Dibaca : 253 Pengunjung

Sejak akhir September 2017, Gunung Agung yang merupakan gunung api tertinggi di Bali menunjukan aktivitas yang sangat aktif. Pemerintah pun mengeluarkan status awas untuk masyarakat sekitar. Mereka yang berada di areal 12 km diungsikan untuk mencegah timbulnya korban jiwa jika sewaktu-waktu Gunung Agung meletus. Catatan sejarah  letusan Gunung Agung yang telah ada cukup menghawatirkan. Sehingga langkah antisipatif diberlakukan dengan segera oleh pemerintah kabupaten Karang Asem dan provinsi Bali. 

Ratusan ribu orang mengungsi. Semua kabupaten kota di Bali menerima para pengungsi dari daerah Karangasem dengan penuh semangat. Antusias masyarakat dalam membantu para pengungsi telah menggetarkan rasa kemanusiaan yang terdalam. Tanpa komando, sehari setelah pengungsian terjadi, masyarakat Bali telah berbondong-bondong menyalurkan bantuan semampunya. Hari-hari berikutnya terlihat para muda Bali dengan antusias di jalanan mengumpulkan donasi untuk para pengungsi. Sementara pemerintah daerah dengan jajarannya juga sibuk melakukan langkah-langkah antisipatif apalagi Gunung Agung belum meletus dan bencana yang ditakuti belum terjadi sementara gelombang pengungsi telah terjadi.

Sudah dua minggu berlalu, gunung agung belum meletus. Beberapa pengungsi ada yang mulai kembali ke kampung halamannya. Ada dua sebab, pertama daerahnya tidak termasuk daerah rawan bencana letusan gunung dan kedua karena bosan menunggu di pengungsian. Pemerintah masih belum menurunkan status G. Agung.

Menunggu letusan G. Agung terjadi atau tidak  cukup menguras perasaan masyarakat Bali terutama yang mengungsi. Resah menjalani hari-hari dipengungsian, memikirkan ternak dan ladang yang tidak terurus. Apalagi membayangkan hari-hari ke depan bila letusan terjadi dengan dahsyat. Bukan hanya masyarakat Karang Asem saja sesungguhnya yang terdampak, bila membaca dampak letusan 1963. Semburan yang tinggi telah menutupi sinar matahari. Hujan abu yang pasti akan mengganggu penerbangan. Penerbangan yang terganggu akan mengganggu Pariwisata. Pariwisata yang terganggu akan melumpuhkan Bali yang sudah kecanduan Pariwisata.


Oleh : dudikmahendra | 11 Oktober 2017 | Dibaca : 253 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



 AGENDA
Hubungi Kami
wayan_ddk@yahoo.com -
Jajak Pendapat
Bagaimana Pendapat Anda tentang Website DudikMahendra.com?
Twitter